{"id":1470,"date":"2016-06-01T00:46:29","date_gmt":"2016-05-31T17:46:29","guid":{"rendered":"http:\/\/fip.unj.ac.id\/?p=1470"},"modified":"2016-06-01T00:46:29","modified_gmt":"2016-05-31T17:46:29","slug":"mengenang-andi-dwi-putra","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/?p=1470","title":{"rendered":"*Mengenang Andi Dwi Putra*"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><strong>Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun , telah berpulang ke Rahmatullah teman, sahabat, saudara, &amp; keluarga kita<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">*Ciptakan Tujuh Inovasi sejak Kelas III\u00a0SMA*<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Negara ini tentu mengimpikan ada warganya yang mampu menyabet penghargaan nobel internasional. Dan, Andi Dwi Putra mewujudkan impian itu setelah berhasil menyabet Nobel Inventor Order of Merit dalam 1st World Inventor Award Festival (WIAF) 2012 yang dihelat akhir tahun lalu di Korea Selatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Laporan M. Hilmi S., JAKARTA<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">PERAWAKANNYA memang gempal, tetapi murah senyum dan heboh. Jauh dari kesan seorang mahasiswa kutu buku. Begitulah tampilan Andi Dwi Putra saat ditemui di kampusnya, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Senin lalu (4\/3).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">\u00a0Anak pasangan Adam Rochmadi dan Endang Sri Wahyuni itu mendapat anugerah nobel internasional untuk kategori inovator. Nobel tersebut diberikan kepada sejumlah sosok yang rata-rata dosen bergelar doktor dan profesor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">\u2019\u2019Setelah saya cari informasi ke panitia, saya yang termuda,\u201d ujar pemuda kelahiran Jakarta, 6 Mei 1991, tersebut. Penghargaan itu diserahkan di Seoul, Korea Selatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Lewat penghargaan ini, Andi ingin menyampaikan pesan kepada dunia internasional bahwa masyarakat Indonesia tidak hanya suka memakai karya orang lain. Masyarakat kini mau memeras otak untuk menelurkan karya-karya inovasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">\u00a0Andi yakin, pelan tapi pasti, Indonesia akan menjadi bangsa inovator. Yakni bangsa yang masyarakatnya mulai tergerak untuk aktif mengeluarkan inovasi buat berbagai cabang disiplin ilmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Mahasiswa Prodi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ itu lantas menceritakan kiprahnya hingga berhasil menyabet penghargaan sekelas nobel tersebut. Undangan 1st WIAF di Korsel itu dia terima sekitar pertengahan tahun lalu. \u2019\u2019Penganugerahannya pada 15 Desember 2012,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">WIAF merupakan ajang untuk menjaring orang-orang kreatif dan inovatif. Penghargaan kategori nobel itu diperebutkan oleh mereka yang memiliki track record gemilang dengan berbagai karya inovasi secara konsisten. Andi layak mendapat penghargaan ini karena karya-karyanya yang dibikin sejak SMA itu memang paling baik. \u2019\u2019Kalau tidak salah, ada tujuh inovasi yang saya bikin sejak kelas III SMA hingga kini,\u201d tutur alumnus SMAN 38 Jakarta itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Sejumlah inovasi tersebut, antara lain, di bidang keilmuan seperti kimia, kedokteran hewan, ilmu kesehatan, psikologi, matematika, aplikasi komputer, dan blueprint game online.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Sebagai siswa SMA jurusan IPA kala itu, Andi terobsesi untuk kuliah di prodi teknik kimia. Tetapi, impian tersebut gagal karena dia buta warna. \u2019\u2019Akhirnya, saya pilih prodi yang hampir-hampir dekat dengan teknik kimia. Pilihannya prodi psikologi,\u201d katanya. Entah apa alasannya, Andi yakin teknik kimia dan psikologi masih bertetanggaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Di antara setumpuk inovasi yang dia kirim ke panitia lomba, ada beberapa yang mengesankan bagi Andi. Misalnya, inovasi di pelatihan psikologi first aid atau pertolongan bagi para TKI. Intinya, modul itu memberikan panduan kepada TKI untuk menjadi psikolog bagi dirinya sendiri dan sesama TKI yang terkena masalah di luar negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Anak kedua di antara tiga bersaudara tersebut mengungkapkan, selama ini tak sedikit TKI yang mendapat masalah di tempat kerja dan membutuhkan pendampingan psikolog. Informasi itu dia peroleh setelah magang beberapa waktu di Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Modul pelatihan psikologi first aid untuk para TKI sebelumnya mendapat medali perak dalam perlombaan di Universitas Sains Islam Malaysia (USIM) pada 2012. \u2019\u2019Modul ini mendapat respons positif karena semangatnya tidak menjatuhkan mental TKI yang tersandung masalah,\u201d kata Andi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Modul itu cukup membantu para TKI yang tersandung masalah untuk tetap tegar dan bisa bangkit guna menjalani hidup dengan normal lagi. Saat dipamerkan di Malaysia, respons dari negeri jiran tersebut luar biasa. Mereka meminta Andi membuat modul serupa yang bisa diterapkan untuk para calon TKI tujuan Malaysia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">\u2019\u2019Selama penelitian, saya menggunakan sampel para TKI tujuan Timur Tengah,\u2019\u2019 ujar pemuda yang masuk dalam buku kompilasi 101 Inovator Potensial Indonesia terbitan Kemenristek itu.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Dia mengakui bahwa modul pelatihan psikologi TKI tersebut masih butuh banyak revisi. Antara lain, soal penggunaan istilah-istilah perburuhan dan psikologi yang sering salah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Andi menuturkan, sebagian calon TKI yang dia gandeng sejatinya paham alur modul pelatihan tersebut. Tetapi, mereka meminta istilah-istilah akademik serta bahasa asing bisa disederhanakan dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Inovasi lain yang tidak kalah mengesankan adalah penelitiannya tentang ginseng jawa atau som jawa (talinum paniculatum) untuk jamu peningkat libido tikus jantan. \u2019\u2019Penelitian itu masuk kategori kedokteran hewan,\u2019\u2019 jelasnya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Penelitian tersebut berkesan karena membutuhkan waktu lumayan lama. Yakni mulai menjelang lulus SMA hingga masuk kuliah. Penelitian itu juga telah mendapat pengakuan internasional sebagai runner-up dalam ajang Alltech Young Scientist tingkat Asia Pasifik di Amerika pada 2012.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Menurut Andi, inovasi dari teknologi pemanfaatan ginseng jawa tersebut juga bisa diterapkan untuk meningkatkan libido pada manusia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Dia juga pernah membuat inovasi di bidang matematika. Yakni memanfaatkan motif batik nusantara sebagai bahan pembelajaran matematika. Dengan teknik itu, matematika yang identik dengan pelajaran momok bisa lebih berwarna dan menarik.\u00a0\u00a0 \u2019\u2019Matematika tidak lagi hadir dalam wujud yang kaku. Tetapi, jadi indah karena menghadirkan motif-motif batik,\u2019\u2019 ungkapnya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Motif batik bisa diterapkan untuk pembelajaran matematika sejak SD hingga SMA. Bahkan untuk anak-anak TK yang mulai diperkenalkan huruf dan angka.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Andi mencontohkan salah satu teknik menggunakan motif batik untuk belajar matematika. &#8220;Misalnya, untuk mengukur lingkaran, ya digunakan motif batik lingkaran. Kalau mengukur kotak, ya pakai motif batik kotak,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Menurut dia, inovasi yang bisa dijalankan tidak perlu yang muluk-muluk. \u2019\u2019Kalau yang aneh-aneh, nanti malah sulit diwujudkan,&#8221; tegasnya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Untuk mewujudkan sejumlah inovasinya itu, Andi mengaku tidak jarang harus merogoh kocek sendiri. Dia menyatakan, rekor pengeluaran terbesar untuk penelitiannya mencapai Rp 5 juta.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Sayangnya, di antara setumpuk inovasi itu, belum ada satu pun yang dipatenkan. Alasannya, biayanya tidak sedikit. Andi mendapat informasi, biaya satu hak paten mencapai Rp 15 juta.\u00a0 \u2019\u2019Saya kan akademisi, bukan perusahaan,\u2019\u2019 selorohnya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Andi berkomitmen akan menularkan semangat berinovasi kepada pemuda-pemudi Indonesia. Hal itu sudah dia wujudkan dengan mendirikan Association of Young Innovator and Scientist Indonesia (AYISI) pada 2011. Lembaga tersebut didirikan untuk mewadahi masyarakat yang ingin aktif membuat inovasi-inovasi karya. Lembaga itu dipimpin Andi sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">AYISI sementara bermarkas di rumah Andi di kawasan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.\u00a0 \u2019\u2019Masih menggunakan garasi mobil di rumah saya,\u2019\u2019 ujarnya lantas tertawa. Dia menyatakan, saat ini ada 20 anggota AYISI plus sepuluh pengurus. \u2019\u2019Misi kami, pada 2020 nanti, Indonesia bisa menjadi pemimpin untuk urusan nobel,\u201d tegasnya. (p6\/c1\/ary)\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><em>Sumber :\u00a0http:\/\/www.radarlampung.co.id\/read\/radar\/berita-foto\/57228-rajin-berinovasi-andi-dwi-putra<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun , telah berpulang ke Rahmatullah teman, sahabat, saudara, &amp; keluarga kita *Ciptakan Tujuh Inovasi sejak Kelas III\u00a0SMA* Negara ini tentu mengimpikan ada warganya yang mampu menyabet penghargaan nobel internasional. Dan, Andi Dwi Putra mewujudkan impian itu setelah berhasil menyabet Nobel Inventor Order of Merit dalam&hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1471,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,11],"tags":[],"class_list":["post-1470","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-kemahasiswaan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1470","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1470"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1470\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1472,"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1470\/revisions\/1472"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1471"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1470"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1470"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fip.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1470"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}