Berita

FIP UNJ Gelar Bedah Buku Entrepreneurial Marketing untuk Perkuat Jiwa Kewirausahaan Akademik Dosen

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (FIP UNJ) menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku Entrepreneurial Marketing karya Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan tim pada Kamis, 26 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Drs. R.A. Hirmana Wargahadibrata, M.Sc.Ed. (Teknologi Pendidikan) sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Dr. Evitha Soraya, M.Pd. (Manajemen Pendidikan). Selain itu, hadir pula Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Sumber Daya Dr. Cecep Kustandi, M.Pd dan Wakil Dekan Bidang Riset, Inovasi, Sistem Informasi dan Kerjasama Dr. Siti Zulaikha, S.Ag., M.Pd.

Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FIP UNJ yang menekankan bahwa ketidakpastian (uncertainty) merupakan realitas yang tidak dapat dihindari dalam dinamika organisasi modern, termasuk institusi pendidikan tinggi. Oleh karena itu, profesionalisme perlu diperkuat melalui pengembangan strategi baru berbasis entrepreneurship agar organisasi mampu beradaptasi terhadap perubahan yang berlangsung cepat.

Dalam sambutannya, diperkenalkan konsep Omnihouse Model, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan kapasitas kewirausahaan dalam organisasi melalui penguatan kreativitas, inovasi, serta kepemimpinan yang agile. Konsep marketing juga dipahami tidak lagi terbatas pada dunia perusahaan, melainkan relevan pada level personal maupun organisasi pendidikan tinggi dalam membangun nilai dan keberlanjutan institusi.

Buku Entrepreneurial Marketing menggunakan metafora budaya lokal melalui tokoh Pandawa dan Punakawan. Pandawa merepresentasikan stabilitas, tata kelola, dan profesionalisme, sementara Punakawan menggambarkan karakter kreatif, adaptif, dan berpikir out of the box. Metafora tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara stabilitas sistem dan keberanian berinovasi dalam menghadapi perubahan zaman.

Dekan FIP UNJ juga menegaskan bahwa pembangunan fakultas tidak hanya bertumpu pada kurikulum dan akreditasi, tetapi membutuhkan pola pikir kreatif dan inovatif. Dosen dipandang sebagai pembelajar sepanjang hayat, di mana peran dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga terus belajar. Prinsip teaching is learning menjadi fondasi dalam transformasi peran dosen di era PTNBH. Selain itu, pengembangan institusi memerlukan keseimbangan antara pendekatan hi-tech dan high-touch, yakni pemanfaatan teknologi yang tetap mempertahankan nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan.

Pada sesi pembahasan, Drs. R.A. Hirmana Wargahadibrata menjelaskan praktik academic entrepreneurship dalam konteks perguruan tinggi berbadan hukum (PTNBH). Ia menyoroti bahwa banyak program studi bisnis belum tentu menghasilkan lulusan dengan mental kewirausahaan. Entrepreneurship, menurutnya, tidak cukup diajarkan sebagai ilmu, tetapi perlu dibangun sebagai pola pikir dan karakter.

Sesi dilanjutkan dengan pemutaran video mengenai perbedaan antara branding dan marketing, yang memunculkan sejumlah refleksi penting, antara lain perlunya perumusan branding FIP di era PTNBH, optimalisasi hilirisasi yang memberdayakan dosen sebagai aktor utama, pentingnya kepemimpinan dalam menentukan keberhasilan organisasi, serta penguatan nilai profesionalisme dalam proses transformasi institusi.

Narasumber juga menjelaskan tahapan transformasi pengembangan karier dosen melalui konsep unfreezing–refreezing. Tahap unfreezing merupakan fase ketika individu menghadapi kebingungan, ketakutan gagal, dan rasa tidak percaya diri. Fase ini menjadi bagian dari learning zone yang ditandai dengan peningkatan keterampilan, fokus, disiplin diri, serta perubahan pola pikir. Selanjutnya, tahap refreezing berada pada growth zone, di mana individu mampu menjadi pencari dan pencipta peluang, berani mengambil risiko, serta membangun jejaring kolaboratif.

Pada sesi diskusi, Bu Indah Wardattussa’idah selaku dosen PGSD menegaskan bahwa entrepreneur tidak semata-mata dimaknai sebagai pedagang, tetapi sebagai mentalitas keberanian dalam mengambil risiko. Sementara itu, Rizqi Nur Afifah, M.Pd. mengajukan pertanyaan mengenai peran kepemimpinan, khususnya sebagai koordinator produk pada Program Studi Manajemen Pendidikan.

Menanggapi hal tersebut, narasumber menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan bagian dari keberlanjutan organisasi. Mengacu pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara, kepemimpinan dapat diwujudkan melalui prinsip Ing Madya Mangun Karso, yaitu pemimpin hadir di tengah tim untuk membangun semangat, motivasi, serta rasa memiliki (sense of ownership) terhadap program yang dijalankan. Pemimpin tidak bekerja sendiri, melainkan menciptakan energi kolektif agar tim mampu bergerak dan berkembang bersama.

Melalui kegiatan bedah buku ini, FIP UNJ diharapkan mampu memperkuat perspektif entrepreneurial mindset dalam pengembangan institusi serta mendorong dosen menjadi agen perubahan yang adaptif, inovatif, dan kolaboratif di era transformasi pendidikan tinggi.

HUBUNGI KAMI :
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta
Gedung Daksinapati, Rawamangun Muka, Jakarta Timur
Telp/Fax. 021-4755115
Website: http://fip.unj.ac.id
e-mail : fip@unj.ac.id
              fipunj@gmail.com