Depok, 8 September 2025 — Program Studi Pendidikan Masyarakat (Penmas), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), resmi meluncurkan program Praktik Kerja Lapangan (PKL) kolaboratif dengan Rutan Kelas I Depok, sebagai bagian dari komitmen kuat terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Kegiatan ini merupakan hasil dari pertemuan strategis pertama antara Kepala Rutan Kelas I Depok, Agus Imam Taufik, A.Md.IP., S.H., M.Si., dan Koordinator Program Studi Pendidikan Masyarakat, Dr. Henny Herawati, M.Pd., dan Prof. DR. Dr. Hafid Abbas 15 Agustus 2025. Pertemuan tersebut membuka jalan bagi kerja sama berkelanjutan antara dunia akademik dan lembaga pemasyarakatan, dengan fokus pada pemberdayaan pendidikan inklusif bagi warga binaan.
Sebagai tindak lanjut, pada 8 September 2025, dilakukan koordinasi teknis lapangan antara perwakilan Rutan Kelas I Depok — Ibu Andi— dengan tim dosen pembimbing dari Prodi Penmas, yaitu Asma Syifa Nabihah, S.Tr.Gz., M.Gz, guna berkoordinasi terkait pelaksanaan PKL yang relevan, aman, dan berdampak. Koordinasi ini memastikan bahwa kebutuhan pembelajaran warga binaan, kapasitas staf PKBM, serta kompetensi mahasiswa dapat selaras secara operasional.
Sebagai bentuk implementasi nyata, lima mahasiswa semester VII Prodi Penmas — yaitu Rika Fitria Utami, Dwi Andini, Restu Dyah Sulistyaningrum, Elsa Nur Fidelia, Syuhada Lathifah— akan menjalani PKL selama satu semester (September–Desember 2025) di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam Rutan Depok. Mahasiswa akan terlibat langsung dalam perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi program pembelajaran inklusif bagi warga binaan, dengan pendekatan berbasis kebutuhan, konteks sosial, dan literasi digital.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman praktik lapangan yang autentik bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi wujud konkret transformasi pendidikan di ruang yang selama ini terpinggirkan. Melalui pendekatan pedagogis yang humanis dan berbasis hak asasi manusia, mahasiswa dilatih untuk menjadi agen perubahan yang mampu menjembatani kesenjangan pendidikan antara masyarakat umum dan kelompok rentan.
Relevansi dengan SDGs:
SDG 4: Pendidikan Berkualitas — Program ini memastikan akses pendidikan yang adil, inklusif, dan berkualitas bagi semua, termasuk warga binaan yang sering kali tidak terjangkau oleh sistem pendidikan formal. Pembelajaran dirancang agar relevan, kontekstual, dan berorientasi pada keterampilan hidup (life skills) serta literasi digital.
SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan — Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga pemasyarakatan, dan stakeholder lokal menjadi contoh nyata kemitraan multi-sektor yang inovatif. Sinergi ini membuka ruang bagi transfer pengetahuan, inovasi pendidikan, dan penguatan kapasitas institusi publik melalui pendekatan akademik yang berdampak sosial.
Program ini juga menjadi bagian dari inisiatif “Pendidikan untuk Semua di Ruang Terbatas”, sebuah gerakan nasional yang diinisiasi oleh UNJ untuk mendorong pendidikan inklusif di tempat-tempat yang dianggap “terpencil” secara sosial dan institusional.
Kegiatan PKL ini diharapkan tidak hanya berakhir pada Desember 2025, tetapi menjadi model replicable yang dapat diterapkan di rutans lain di Indonesia, sekaligus menjadi referensi dalam pengembangan kurikulum pendidikan masyarakat berbasis SDGs.


