Jakarta, Juli 2025 – Dalam rangka kegiatan Pelatihan Pembelajaran kepada peserta didik, Program Studi Pendidikan Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNJ menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Merayakan Keberagaman: Strategi Pembelajaran Terdiferensiasi untuk Pendidikan Kesetaraan.” Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dinda Jayanti Safitri, seorang pendidik, peneliti, dan kepala sekolah SMA Erudio Indonesia yang telah berpengalaman dalam bidang pendidikan berbasis proyek dan pembelajaran yang kontekstual.
Pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan filosofi dan praktik pembelajaran terdiferensiasi sebagai pendekatan yang manusiawi dan relevan, khususnya dalam konteks pendidikan kesetaraan dan PKBM. Dalam paparannya, Dinda menekankan bahwa setiap peserta didik adalah unik dan membutuhkan pendekatan belajar yang disesuaikan dengan kesiapan, minat, serta gaya belajar masing-masing.

Ia juga mengajak peserta untuk memandang pembelajaran sebagai ruang hidup yang fleksibel dan kontekstual. “Belajar bukan soal menyamakan isi kepala, tapi tentang membantu setiap individu mengenali dan menyuarakan dirinya sendiri,” ujar Dinda.
Melalui berbagai contoh praktik di Erudio Indonesia, Dinda menunjukkan bagaimana pembelajaran dapat dirancang secara berbeda dalam hal konten, proses, dan hasil. Ia membagikan pengalaman tentang bagaimana peserta didik di sekolahnya diberi kebebasan mengeksplorasi tema yang dekat dengan kehidupan mereka, menggunakan berbagai metode seperti wawancara, jurnal visual, atau diskusi kelompok, dan menampilkan hasil belajar dalam bentuk yang beragam mulai dari video dokumenter, ilustrasi, hingga pertunjukan seni. Semua bentuk hasil tersebut dianggap sah sebagai representasi proses belajar, karena disesuaikan dengan kekuatan dan karakter masing-masing peserta.

Dinda juga menekankan bahwa pembelajaran terdiferensiasi bukan berarti membuat rencana belajar yang berbeda untuk setiap siswa, tetapi memberikan pilihan-pilihan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Melalui pelatihan ini, diharapkan pendidik di lingkungan pendidikan kesetaraan dapat membangun pendekatan yang lebih manusiawi, kontekstual, dan merdeka dalam proses belajar mengajar. Dengan begitu, pendidikan benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi setiap individu, bukan hanya ruang cetak lulusan.

