Jakarta, 26 Mei 2026 – Program Studi Pendidikan Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta berkolaborasi dengan Program Studi Pemasaran Digital Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta telah sukses melaksanakan kegiatan Pelatihan Pendampingan Packaging dan Digital Marketing bagi UMKM Oleh-oleh Khas Betawi. Kegiatan ini bertempat di Hotel Naraya UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, dan dihadiri oleh 21 peserta yang merupakan pelaku UMKM dari berbagai jenis produk khas Betawi, mulai dari makanan, camilan, hingga souvenir. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM dalam mengembangkan kualitas kemasan produk serta memperkuat strategi pemasaran digital agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Acara dibuka oleh dua mahasiswa Prodi Pendidikan Masyarakat, Nanda Maisya dan Zakia At Thusi selaku Master of Ceremony. Sambutan pertama disampaikan oleh Dr. Daddy Darmawan, M.Si. selaku perwakilan Koordinator Program Studi Pendidikan Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Fajar Kurniawan selaku pendiri brand Mpok Mumun yang menceritakan perjalanan usahanya serta pentingnya legalitas usaha dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bagi pelaku UMKM. Pelatihan juga diikuti oleh Bapak Nararia Hutama Putra, M.Pd, Ibu Fitri Khoiriyah Parinduri, SKM.,MKM., dan Ibu Fera Kuraysia, M.Si
Gambar 1. Pemaparan Materi Kemasan Berdaya
Materi pertama berjudul “Kemasan Berdaya” disampaikan oleh Ibu Asma Syifa Nabihah, S.Tr.Gz., M.Gz. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan pentingnya kemasan sebagai identitas produk sekaligus media komunikasi kepada konsumen. Terdapat tiga aspek utama yang perlu diperhatikan dalam sebuah kemasan, yaitu keunggulan visual, fungsionalitas, dan nilai estetika. Kemasan yang menarik tidak hanya mampu meningkatkan daya tarik konsumen, tetapi juga dapat meningkatkan nilai jual produk serta membuka peluang produk UMKM untuk menembus pasar nasional maupun internasional.
Sesi ini berlangsung interaktif melalui sharing session antarpeserta mengenai perjalanan usaha yang telah mereka jalani. Selanjutnya, ditampilkan juga berbagai contoh kemasan produk khas Betawi dari para peserta dan mendiskusikan tantangan yang dihadapi, seperti biaya produksi kemasan, desain produk, hingga pengurusan label halal dan legalitas usaha. Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah praktis merancang kemasan berdaya, mulai dari mengenali karakteristik produk, memilih material kemasan yang sesuai, memasukkan unsur budaya Betawi ke dalam desain produk, hingga melakukan uji coba kemasan. Pemateri juga memperkenalkan cara pembuatan label gizi melalui situs resmi BPOM serta penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) sebagai alat bantu dalam menghitung nilai gizi produk.
Pada sharing session, Bapak Fajar Kurnia menjelaskan bagaimana transformasi kemasan dan pemanfaatan media digital berhasil meningkatkan daya saing brand Mpok Mumun hingga mampu menjangkau pasar dengan luas. Beliau juga menekankan pentingnya penggunaan media sosial dan website sebagai sarana promosi yang efektif bagi UMKM. Sebagai penutup sesi pertama, seluruh peserta diminta mengisi worksheet “Kemasan Naik Kelas” yang berisi identifikasi elemen wajib kemasan, perhitungan target harga jual, hingga penyusunan jadwal pengembangan produk dan pengurusan legalitas usaha.
Gambar 2. Pemaparan Materi Digital Marketing
Materi kedua mengenai Digital Marketing disampaikan oleh Ibu Sintia Nursafitri, S.Tr.Kom., M.Kom. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan besarnya potensi pasar digital di Indonesia dengan jumlah pengguna internet dan media sosial yang sangat tinggi. Pemateri menekankan bahwa fokus utama pemasaran digital bagi UMKM adalah membangun brand awareness agar produk lebih dikenal masyarakat luas.
Berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, Facebook, WhatsApp Business, YouTube, serta marketplace diperkenalkan sebagai media strategis untuk memperluas jangkauan pasar. Pemateri juga menjelaskan strategi penyusunan konten melalui Formula 3-2-1 yang terdiri atas konten edukasi, inspirasi, dan promosi. Selain itu, peserta diperkenalkan pada konsep content planner, prime time posting, penggunaan Call to Action (CTA), hingga pemanfaatan AI seperti ChatGPT dan Gemini untuk membantu proses pembuatan konten digital secara lebih efektif dan efisien.
Dalam sesi tersebut, peserta juga diberikan berbagai tips pengelolaan media sosial, seperti menjaga konsistensi identitas visual, aktif membalas komentar dan pesan, menganalisis performa konten, serta memanfaatkan fitur-fitur terbaru media sosial untuk meningkatkan engagement. Pemateri menegaskan pentingnya hook atau tiga detik pertama dalam sebuah video sebagai penentu ketertarikan audiens terhadap konten yang ditampilkan.
Gambar 3. Dokumentasi Kegiatan Pendampingan Packaging dan Digital Marketing
Kegiatan pelatihan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang membahas berbagai persoalan pemasaran digital, mulai dari etika duplikasi konten, strategi menghadapi komentar negatif, pemilihan platform sesuai target pasar, hingga syarat penggunaan fitur keranjang kuning di TikTok shop. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan pertanyaan yang diajukan selama kegiatan berlangsung.
Menjelang akhir acara, peserta diarahkan untuk mengisi kuesioner evaluasi kegiatan melalui kode QR serta bergabung ke dalam grup pelatihan sebagai bentuk keberlanjutan program dan pendampingan. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta, pemateri, dan juga panitia.




