Dosen Pendidikan Masyarakat UNJ Menjadi Pembicara Internasional di Wuhan, Tiongkok

Karta Sasmita, Dosen Prodi Pendidikan Masyarakat sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, menjadi salah satu pembicara terpilih dalam The 4th International Symposium on Inclusive Education Development yang diselenggarakan oleh Central China Normal University (CCNU) di Wuhan, Tiongkok, pada tanggal 23–26 Juni 2025.

Simposium ini mengangkat tema “Reimagining Teaching Materials and Empowering Children’s Subjectivity in the Age of AI”, dan dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari berbagai negara, termasuk akademisi, praktisi pendidikan, dan mahasiswa.

Karta Sasmita tampil dalam dua sesi penting:

  1. Parallel Forum III pada 24 Juni 2025 pukul 15:50–17:30, dengan topik “Empowering Children’s Subjectivity through Artificial Intelligence”, bersama pembicara dari Rusia dan Tiongkok.

2. Guest Lecture pada 26 Juni 2025 pukul 14:00–15:30, dalam sesi bertajuk “Inclusive Education Practices and Experience Across Countries”, bersama pembicara dari Spanyol, Singapura, dan Rusia.

Dalam paparannya berjudul “Integrating Deep Learning and AI for Empowering Children’s Subjectivity in Inclusive Education: Addressing Challenges and Opportunities in Indonesia”, Karta menyoroti tantangan pendidikan di Indonesia, termasuk rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) siswa, ketimpangan akses teknologi, dan krisis pembelajaran. Ia menawarkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan pengalaman belajar yang mindful, meaningful, dan joyful. Presentasi tersebut juga menekankan pentingnya desain pembelajaran yang inklusif, kolaboratif, dan berbasis nilai kemanusiaan.

Karta Sasmita juga menyoroti praktik pendidikan inklusi dalam konteks pendidikan masyarakat di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa konsep inklusi yang umum dipahami sering kali terbatas pada integrasi murid difabel ke dalam kelas reguler. Namun dalam pendidikan masyarakat, inklusi memiliki makna yang jauh lebih luas: terbuka untuk semua usia, semua kondisi, dan semua latar belakang. Dalam satu kelas, bisa ditemukan peserta didik berusia 17 tahun hingga 45 tahun, dengan beragam latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya. Bahkan, karena sifatnya yang sangat terbuka, pendidikan masyarakat tidak pernah secara eksplisit menyebut dirinya sebagai “pendidikan inklusi”. Karta Sasmita (Universitas Negeri Jakarta) bersama para pembicara internasional lainnya dalam The 4th International Symposium on Inclusive Education Development di Wuhan, Tiongkok.

Dari kiri ke kanan: Prof. Jana Ho (University of Saint Joseph, Macau), Yakovleva Irina Mikhailovna (Moscow City University, Rusia), Zachary Walker (University College London, Inggris), Karta Sasmita (Universitas Negeri Jakarta, 585Indonesia), João Costa (European Agency for Special Needs and Inclusive Education), Poon Kin Loong, Kenneth (Nanyang Technological University, Singapura), dan Ignacio Calderón-Almendros (University of Málaga, Spanyol).

Kegiatan ini juga mencakup sesi pembukaan yang dihadiri oleh pejabat tinggi dari Kementerian Pendidikan Tiongkok, UNESCO, dan organisasi pendidikan inklusif, serta kunjungan lapangan ke sekolah-sekolah inklusif dan pendidikan khusus di Wuhan pada 26 Juni 2025. Partisipasi Dr. Karta Sasmita dalam forum internasional ini menegaskan peran aktif akademisi Indonesia dalam pengembangan pendidikan inklusif global, serta membuka peluang kolaborasi antara Universitas Negeri Jakarta dan institusi pendidikan terkemuka di dunia dari Singapura, Rusia, Spanyol, Inggris, Portugis,  juga Universitas terkemuka di Tiongkok.